Semenjak kejadian itu, gue gak pernah
lagi berkomunikasi sama yang di Indonesia, even sama si Dicky. Setiap gue
request, dia selalu offline. Dan itu juga kejadian di twitter dan face timenya.
“Rin, udah 2 bulan kitadi Jepang. Tapi
lo gak nunjukkin ekspresi enjoy lo sama sekali. Ada apasih?”tanya Salsha yang
lagi kipas-kipas waktu break syuting yang latarnya diambil di rumah sakit.
“Umm, nothing. Kayaknya gue emang lagi
kurang enjoy aja sama schedule syutingnya”
“Loh, bukannya scene lo tuh udah
dipersedikit ya? Buktinya,lo Cuma tiduran aja gitu di bed, terus bangun, terus
ceritanya ke taman, terus lo collapse lagi, dan yaa … intinya gitu deh”
“Entahlah sha, gue juga gak ngerti.
Padahal gue tuh cenderung lebih banyak waktu buat nikmatin suasana Jepang ini.
Apalagi, lagi musim gugur. Tapi, feeling gue ngerasa gak enak. Dan passion gue
buat stay disini juga sedikit banyak ngilang gitu.”
“Mungkin, ada masalah internal?”
“Uhm…”
“About your family? Or your
relationship between you and Dicky?”
“Both of them. I think”
“Oh my, come on. They fine there,
don’t you ever thinking bad about.”
“Yeah. But. Those thought always come
into my mind. And. I don’t think I can take it more easy. Gue Cuma butuh waktu
buat itu.”
“Emang gak gampang buat
mengenyampingkan pikiran-pikiran itu. Tapi seenggaknya, lo bisa enjoy sama yang
sekarang lagi lo jalanin. Gue. Lo. Semuanya yakin, nothing bad happens.”
“Thanks sha. Sedikit banyak, lo udah
nenangin hati gue. Lo bener. Gak seharusnya gue berfikiran buruk tentang
mereka. Gue. Lo. Semuanya yakin, pasti semuanya baik-baik aja. Cause …”
“Everything gonna be alright!
Hahaha”kita berdua memutuskan buat makan siang di kantin rumah sakit. Ya,
sekalian keliling-keliling. Selama sekitar 1 minggu, kita berdua udah kenalan
sama beberapa pasien yang punya penyakit dalam. Dan ada satu orang yang
penyakitnya bener-bener sama persis sama kak Bisma. Minami Takahashi, yaa. Dia,
gadis yang 3 tahun lebih muda dari gue, ya berarti sekitar 13 tahun. Ya. Dia
itu orangnya. Orang yang terus berjuang melawan penyakitnya, yang sama persis
sama apa yang di derita kak Bisma. Tapi mungkin, gue masih bisa bersyukur.
Karna penyakit kakak gue itu masih jauh lebih ringan dari apa yang diderita sama
Nami, ibarat penyakit kak Bisma masih kelas 3, Nami udah kelas 6.
Tapi, gak pernah sedikitpun gue liat
dia nangis. Dia selalu senyum. Senyum yang bener-bener bisa melelehkan orang
yang melihatnya, sama seperti senyumnya kak Bisma, sama, persis. Dia memang
udah gak punya rambut, tapi dia sama sekali gak pernah malu sama keadaan yang
dia alami sekarang. Gak pernah dia ngeluh kesakitan, dan gue banyak belajar
dari dia. Dia jauh lebih menghargai hidup, bahkan setiap detik gak akan dia
lewatin buat bersyukur.
Gue inget banget, sangat, waktu dia
bilang ke gue dengan bahasanya yang kalo diartiin itu, “Manusia itu gak bisa
menentukan kapan ajal akan menjemput, sekalipun dia itu dokter. Karena manusia
gak pernah tau jalan permainan yang dibuat Tuhan.”
“Oy, bengong aja lu rin.”
Gue kaget dan masang muka polos,”Engga
tuh.”
“Gausah ngelak gitu deh. Oh iya, gue
dapet kabar buruk deh rin.”
“Kabar apaan deh?”
“Lo tau kan, cewek yang suka kita
tongkrongin kalo lagi break syuting?”
“Maksud lom si Nami?”Steffi ngangguk.
“Dia kenapa, ehh?”
“Tadi gue denger dari suster yang
blasteran indo itu lohh. Lo tau kan?”
“Iya iya, kenapa sih emangnya?”
“Si Nami koma. Dia collapse waktu
ngeliat kita syuting tadi, waktu lo shoot di taman belakang”
“Ya Allah, terus terus?”
“Ya yaudah. Kata suster itu sih,
sebelum dia collapse, dia sempet ngagumin acting lo. Kali aja lo bisa
nyemangatin dia di sisa-sisa hidupnya.”
“Lo nih ya, ngelantur aja. Dia pasti
sembuh kok. Yaudah deh, gue mau kesana dulu. Makanan gue buat lo aja steff.”gue
langsung ke kamarnya Nami, steffi juga keliatan seneng waktu gue kasih makanan
yang belum sempet gue sentuh sama sekali itu.
Gue duduk di samping gadis yang terdapat
banyak selang di tubuhnya. “Hey, wake up. Wake up, and see me. Come on, I need
your smile.” Tapi Nami masih aja di posisinya dengan nafas yang tertur. “Minami
Takahashi. You’re a strong girl, I learn a lot from you. You interpret this
world to me. Come on, give your sweet smile, honey.” Entah kenapa, gue jadi
inget kak Bisma. Mukanya Nami mirip banget sama kak Bisma, apa kabar dia
disana?
Tiba-tiba tangan Nami gerak dan
genggam tangan gue. Semakin lama genggaman itu semakin erat, tapi sampai
sekarang dia belum sadar juga. Gue denger ada suara derap langkah seseorang
yang masuk dari pintu utama, bukan suara heels yang dipakai sama perawat. Suara
sepatu biasa. “Hey” orang itu menepuk punggung gue. “Anatahadaredesu? (Siapa
anda?)
“Watashi wa kanojo no atarashī
tomodachidesu (Saya teman barunya)”jawab gue dengan sedikit terbata-bata +
gugup. Gue takut kalo bahasa jepang gue keliru, ya maklum di sekolah nilai
Jepang gue gak bagus-bagus banget.
“Dayo Takahashi, kanojo no ani. Omae
wa? (Dayo Takahashi, kakaknya. Dan kamu?”kata seorang laki-laki muda sambil
ngulurin tangannya.
“Arin. Arinia Putri Darmawan.”gue
ngebales tangannya. Dia ngebungkukin badan menunjukkan rasa hormat, begitupun
gue.
“O ai dekite ureshī. (Senang bertemu
denganmu)”
“O ai dekite ureshī siguru. (Senang
bertemu denganmu juga)”gue senyum sambil nyoba ngasih tempat duduk gue buat
dia, tapi dia nolak dan tetep berdiri. “Anata wa eigo o hanasu koto ga dekiru?
(Bisakah kamu berbicara bahasa Inggris?)”
“Oh,
sure. I’m pretty good in English, and where do you come from? Are you
Japanese?”
“No, I’m not. I am Indonesian, and now
I am doing a movie project with some others.”
“Ooh I see. By the way, how come both
of you can know each other?”
“When I was having a break, I saw her
in the garden. I saw she was daydreaming, I started to chat a lot with her, and
now we are best friend. Hahaha. Oh ya, where are your parents? Are they going
to visit her now?”
“Uhm. Nice to hear that. But, since my
parents broke up, she always daydreaming in her balcon’s room. Until oneday she
got sick, and yeah you can see her now. She wasn’t like this before, and I hate
it when my father doesn’t want to know about her and got married with the other
woman. Now, my mother is a single parent. She has to work, morning to evening.
My mother will visit her tonight. But my dad… Yeah, I don’t know.”
“Sorry, I didn’t mean to make you
remember about your family’s past.”
“Oh no, not at all. Well, just forget
it. Wait, Nami is holding your hand? How can it be? She is coma now. ”tanya
Dayo dengan muka bingung sambil ngeliat ke arah tangan gue dan Nami.
“I don’t really know. I just talk to
her, and she suddenly hold me thight.”
“I think she is happy to make a friend
with you. Thank you, I hope her condition will be better next.”
“With my pleasure. Yeah, I hope so.”dari
situ, kita saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing, termasuk kehidupan
asmaranya. Selidik demi selidik, ternyata pacarnya itu seorang model terkenal
di Jepang. Dan sekarang dia lagi photoshoot di Bali, yaa memang Bali tuh tempat
1000 keindahan.
“Its time for me to go, thank you for
the conversation. I enjoy it, hahaha”
“Aha, likewise I.”
“Would you tell me about her progress?
Uhm. But, I don’t force you.”
“Of course! Do you want me to take up
you until outside?”
“No, you don’t have to. Okay, see you.
Hope Nami will be better soon ya.”
“Thanks.” Gue keluar dan langsung
menuju kantin. Karna gue mau ngelepas rasa laper yang menjadi-jadi akibat gue
tunda tadi. Gue makan sendirian di kantin sambil buka tl twitter. Banyak
mention yang masuk, mungkin sekitar >200 mentions. Gue liat, rata-rata pada
nanyain kabar + kangen-kangenan gitu. Gak sempet gue jawab semua, akhirnya gue
ngetweet, “I’m happy here, dear. I miss you too, hope I can go back soon. Much
love yaJ”
Setelah itu, gue nyoba ngestalk tl kak
Bisma. Terakhir dia ngetweet itu sekitar 1 bulan 26 hari yang lalu via ubsoc
for BB yang kemungkinan punya kak Caca. Dan isi tweetnya itu, “Mimpi buruk
adalah ketika seorang pemuda mengakhiri hidupnya tanpa orang yang disayanginya
mendampingi. Semoga saat itu bukan saat terakhirnya untuk bersua.”
“Apa maksud dari tweetnya kak Bisma? Semoga
aja ini bukan kata-kata terakhir yang bisa gue liat dari dia.”gue ngegumam
sendiri. Akhirnya gue lanjut ngestalk tl Dicky. Dia ngetweet sekitar 2 hari
yang lalu, “Rasa rindu ini melebihi rasa rindu orang tua rapunzel kepada
anaknya yang hilang belasan tahun, melebihi rasa rindu Alexa ketika jauh dari
desa tempat ia hidup. Rasa rinduku ini hanya untukmu milỳ terindahku, miss you
most! Go back soon honey @ariniaputri” omg, dia ngemention gue? Kok gamasuk di
inner circle gue?
Gue coba ngecheck, dan ternyata emang
inner circle gue lagi error. Tapi kenapa dia gak nyoba dm gue kalo ternyata
mention aja bisa? Gue nyoba buat ngestalk mention-mention yang masuk ke dia.
Sampe akhirnya gue nemuin ada foto dia lagi ngekiss cewek dan caption si
pengirim itu, “Ini siapa kak @dickymprasetyo? Terus kak Arinnya gimana? *link
photo*” gue shock. Fix. Gue ngambek, gue kesel, gue marah sama Dicky.
Sejak hari itu, gue sama Dayo semakin
akrab. Kalo lagi break, gue sama dia suka ngobrol seru di kamarnya Nami. Dia
juga sering ngajarin gue pelajaran bahasa Jepang yang dijadiin pr sama guru
yang ngemonitor gue dari Indonesia. Gue sama dia udah sepakat jadi adek-kakak,
gue juga kadang diminta dia buat ajarin sedikit kosa kata bahasa indonesia. Selama
itu juga, gue gak pernah sama sekali komunikasi sedikitpun sama Dicky. Ngebales
mentionnya yang waktu itu aja gue sama sekali gak pernah. Ngedm? Gak juga.
“How about your boyfriend?”
“Yeah, just the same like the first
time I tell you. I really-really disappointed at him, even he never try to tell
me about the truth. I … I don’t know what should I do.”
“Maybe, you have to start the
conversation between you and your boyfriend. There is nothing wrong right if a
girl start it the first?”
“Uhm. I think so. But, it’s hard.”
“You can start if you feel ready.
Okay, let’s forget it.”gue sama Dayo akhirnya ngelanjutin obrolan yang kali ini
topiknya tentang pacarnya Dayo. Setelah gue liat orangnya, ternyata dia emang
bener-bener mendekati perfect. Putih, cantik, tinggi, porsinya ideal, cocok
sama Dayo yang tingginya beberapa centi diatas pacarnya, putih, rambutnya
bener-bener menarik, dan gayanya yang casual.
1 bulan sebelum gue balik, gue udah gak
syuting lagi di rumah sakit. Tapi gue masih tetep sering berkunjung ke kamarnya
Nami. Dia sekarang udah sadar dan keliatan lebih fresh. Kata dokter,
perkembangannya itu semakin lama semakin membaik, walaupun gak bisa dikatakan
sembuh. Tapi seenggaknya gue bisa ngeliat senyum yang sempet hilang beberapa
bulan itu. Senyuman yang ngingetin gue sama kak Bisma.
“Arin, ada yang mau ketemu sama
lo.”kata Salsha sambil masuk ke kamar tidur apartemen.
“Siapa?”tanya gue yang lagi ngikir
kuku. Kedengeran lebay? Haha, gue ngikir kuku karna abis motong kuku, bukan
yang buat gaya-gayaan gitu. Wkwk.
“Siapagee, udahlah temuin aja. Tamu
jauh tuh.”
“Kalo menurut insting gue sih ya,
kayaknya tamu lo yang satu ini tamu penting. Karna dia ngebawa jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang lo pendem.”kata Steffi yang lagi baca novel dengan
gaya misterius.
“Yaudah deh ya, gak perlu banyak
cingcong. Gue kebawah. Bye!”ruang tamu sama kamar tidur itu memang beda lantai,
ruang tamu sama mini bar itu dibawah, ruang tidur sama ruang tv itu diatas.
Tapi masih di satu kamar apartemen.
“Riri?! Ilham?! “gue pasang muka kaget
waktu ngeliat mereka berdua ada di ruang tamu.
“Hay rin, apa kabar? Kangen sumpah
sama lo!”kata Riri sambil lari meluk gue
“Hahaha, gue juga kangen banget sama
lo.”gue ngelepas pelukannya dan langsung tosan sama Ilham. Ya tosan tradisi
kita-kita kalo ketemuan. “Kok kalian bisa disini? Dalam rangka apa nih?”
“Kita lagi liburan aja gitu berdua.
Jadwal masing-masing kita Alhamdulillah lagi senggang, jadi ada waktu buat
istirahat sama liburan deh. “jawab Riri
“Ebuseet, ati-ati ya. Jangan
macem-macem kalian berdua, nanti ada setan loh”
“Elah, pikiran lo terbang kesana-sini.
Ya enggak lah. Oh ya gimana keadaan lo selama disini?”tanya Ilham
“Yeah, just like what all of you see.
I’m fine.”
“Fisik lo emang baik-baik aja rin.
Tapi hati lo?” omongannya Ilham sedikit nancep di benak gue. Omongan dia bener.
Fisik gue emang fine-fine aja, tapi hati gue? Dicky, huh.
“Ya. Kayaknya lo jauh lebih tau itu.”
“Oh ya rin, lo harus tau sesuatu.”
“Apa?”
“Bisma, dia koma udah sekitar 2 bulan.
Keadaannya sekarang udah semakin menurun, dia lagi ngejalanin pengobatan di
Singapore. Sebelum dia collapse, dia sempet nulis surat buat lo. Nih
suratnya.”kata Riri sambil ngasih surat yang lapisin sama amplop yang digambar
peace. “Oh ya, nyokap lo udah nunjukin tanda-tanda mau ngelahirin. Tapi sampe
sekarang, mereka belum mau ngasih tau anaknya laki-laki atau perempuan. Dan
satu lagi.”
“Satu lagi apa?”
“Apa lo tau foto Dicky yang nge…”belom
selesai Ilham, gue udah keburu motong omongannya.
“Yayaya, dan gue males ngebahas itu.”
“Eh tunggu dulu, gue mau ngasih tau
yang sebenernya rin. Dicky udah ngeklarifikasi kalau itu semua bohong. Itu
semua Cuma editannya antis supaya hubungan kalian itu end, dan pelakunya udah
dikasih warning biar gak ngelakuin itu lagi, termasuk ke artis-artis
lainnya.”lanjut Ilham
“Tapi kenapa dia gak nyoba buat ngasih
pengertian itu ke gue? Kenapa dia gak nyoba buat ngejelasin itu semua ke gue?
Apa dia gak mikir kalo gue sakit banget ngeliat itu?”
“Karna dia kira, lo gak tau masalah
itu. Dia fikir, dengan kesibukan lo disini, dia yakin kalo lo gak bakal
merhatiin banget tentang dunianya.”
“Ya tapi apa yang dia lakuin ya salah
dong. Dia itu seakan-akan gak nganggep gue sebagai pacarnya tau. Intinya deh
ya, gue kecewa banget sama dia. Walaupun gue udah tau kebenarannya kayak gimana.”
“Ya yaudah deh rin, kita gak berhak
buat ikut campur masalah kalian berdua. Oh iya, kita mau pamit dulu ya. Mau ada
meet and greet, oke?”
“Ooh, jadi kalian ada MnG juga toh?
Okedeh, good luck ya!”gue akhirnya nganterin mereka sampe ke lobby dan balik ke
atas lagi. Gue duduk di sofa tadi dan mulai ngebuka surat dari kak Bisma.
“Buat adikku tersayang, Arin.
Hai, kamu apa kabar disana? Baik-baik
aja kan? Kayaknya kakak kangen banget gitu sama kamu. Ibarat udah gak ketemu
berabad-abad. Dan itu sebuah petaka banget buat kakak yang baru banget jadi
kakak kamu. Ya, walaupun Cuma kakak tiri. But, no problems right?
Arin, kamu tau nggak? Disini, setiap
hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, kakak gak pernah berhenti kangen
sama kamu. Dengan keadaan kakak yang semakin memburuk, kakak tetep kuat. Kakak
tetep bertahan, seperti apa yang kamu minta dek. Iya, demi kamu. Karna kakak
gak mau disaat kamu pulang, kamu mendapati kakak terbaring lemah, atau bahkan
udah gaada di dunia ini.
Tapi kayaknya, janji itu belum tentu
bisa kakak penuhin. Waktu kamu baca surat ini, kamu pasti udah tau keadaan
kakak sekarang. Iya. Keadaan dimana kakak harus mempertaruhkan antara tetap
hidup untuk kamu, atau melepas nyawaku dan meninggalkan semuanya. Kamu inget
waktu pertama kali kita ketemu? Di sebuah café, dimana disitu kita diledekin
sama anak-anak? Kamu inget kan, gimana merahnya muka kita berdua disitu? Jujur,
waktu itu kakak suka sama kamu. Tapi ternyata takdir berkata lain, yang
mengharuskan kita berdua menjadi sebuah keluarga. Kamu dan kakak, jadi sepasang
adik-kakak. Sempet berat buat kakak menerima itu semua, tapi kakak sadar. Itu
justru lebih indah, karna itu berarti hubungan kita gak akan pernah berakhir.
Gak akan ada yang misahin kita berdua.
Tapi ternyata kakak salah. Kakak
sakit. Kanker darah yang ada di diri kakak ngebuat hari-hari kakak kacau.
Semuanya kakak coba jalani dengan senyuman. Tapi kamu pergi jauh, disaat kakak
butuh penyemangat untuk bertahan hidup. Sampe akhirnya kamu muncul secara semu
dan nyanyiin lagu kebangsaan kita. Tapi belum sempet kakak cerita banyak hal
sama kamu, penyakit itu kembali menumbangkan kakak. Dan sejak itu, kakak sama
sekali gak bisa komunikasi sama kamu, bahkan sama orang lain. Kakak Cuma bisa
nulis di kertas, itupun dengan tulisan yang gemeter. Terbukti kan?
Kamu cepet pulang ya, dek. Kakak
kangen banget sama kamu. Kakak kangen waktu kamu hadir buat kakak peluk kalau
seandainya kakak lagi sedih, butuh temen curhat, kamu selalu ada buat kakak.
Tapi maaf, kalau seandainya waktu kamu pulang nanti, kakak udah ada di alam
yang berbeda. Mungkin Allah sayang sama kakak, dengan cara memanggil kakak
untuk berada di sisiNya. Mungkin itu caraNya buat nunjukkin kalo Dia sayang
sama kakak, karna Dia gak mau kakak terus-terusan tersiksa. Tapi satu yang
perlu kamu tau. Kakak selalu berusaha buat bertahan demi kamu. Karna sampai
kapanpun, kakak akan selalu sayang dan ngejagain kamu, kalaupun nanti di alam
yang berbeda. I love you, Arinia Putri Darmawan.
Bisma.”
Gue netesin air mata dan langsung ngedekap surat
itu seakan-akan surat itu adalah kak Bisma. “Maafin kebodohan aku rin.
Seharusnya aku tau, perasaan kamu waktu itu…”seseorang ngangetin gue dari arah
belakang.
Bersambung…
Maaf ya kalo selama ini suka lama ngepostnya.
Mohon dimaklumin, banyak tugas dari sekolah.
Tetep setia baca fanfict aku ya (:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar