Jumat, 15 Maret 2013

New Life Part 18


          Semenjak kejadian itu, gue gak pernah lagi berkomunikasi sama yang di Indonesia, even sama si Dicky. Setiap gue request, dia selalu offline. Dan itu juga kejadian di twitter dan face timenya.
          “Rin, udah 2 bulan kitadi Jepang. Tapi lo gak nunjukkin ekspresi enjoy lo sama sekali. Ada apasih?”tanya Salsha yang lagi kipas-kipas waktu break syuting yang latarnya diambil di rumah sakit.
          “Umm, nothing. Kayaknya gue emang lagi kurang enjoy aja sama schedule syutingnya”
          “Loh, bukannya scene lo tuh udah dipersedikit ya? Buktinya,lo Cuma tiduran aja gitu di bed, terus bangun, terus ceritanya ke taman, terus lo collapse lagi, dan yaa … intinya gitu deh”
          “Entahlah sha, gue juga gak ngerti. Padahal gue tuh cenderung lebih banyak waktu buat nikmatin suasana Jepang ini. Apalagi, lagi musim gugur. Tapi, feeling gue ngerasa gak enak. Dan passion gue buat stay disini juga sedikit banyak ngilang gitu.”
          “Mungkin, ada masalah internal?”
          “Uhm…”
          “About your family? Or your relationship between you and Dicky?”
          “Both of them. I think”
          “Oh my, come on. They fine there, don’t you ever thinking bad about.”
          “Yeah. But. Those thought always come into my mind. And. I don’t think I can take it more easy. Gue Cuma butuh waktu buat itu.”
          “Emang gak gampang buat mengenyampingkan pikiran-pikiran itu. Tapi seenggaknya, lo bisa enjoy sama yang sekarang lagi lo jalanin. Gue. Lo. Semuanya yakin, nothing bad happens.”
          “Thanks sha. Sedikit banyak, lo udah nenangin hati gue. Lo bener. Gak seharusnya gue berfikiran buruk tentang mereka. Gue. Lo. Semuanya yakin, pasti semuanya baik-baik aja. Cause …”
          “Everything gonna be alright! Hahaha”kita berdua memutuskan buat makan siang di kantin rumah sakit. Ya, sekalian keliling-keliling. Selama sekitar 1 minggu, kita berdua udah kenalan sama beberapa pasien yang punya penyakit dalam. Dan ada satu orang yang penyakitnya bener-bener sama persis sama kak Bisma. Minami Takahashi, yaa. Dia, gadis yang 3 tahun lebih muda dari gue, ya berarti sekitar 13 tahun. Ya. Dia itu orangnya. Orang yang terus berjuang melawan penyakitnya, yang sama persis sama apa yang di derita kak Bisma. Tapi mungkin, gue masih bisa bersyukur. Karna penyakit kakak gue itu masih jauh lebih ringan dari apa yang diderita sama Nami, ibarat penyakit kak Bisma masih kelas 3, Nami udah kelas 6.
          Tapi, gak pernah sedikitpun gue liat dia nangis. Dia selalu senyum. Senyum yang bener-bener bisa melelehkan orang yang melihatnya, sama seperti senyumnya kak Bisma, sama, persis. Dia memang udah gak punya rambut, tapi dia sama sekali gak pernah malu sama keadaan yang dia alami sekarang. Gak pernah dia ngeluh kesakitan, dan gue banyak belajar dari dia. Dia jauh lebih menghargai hidup, bahkan setiap detik gak akan dia lewatin buat bersyukur.
          Gue inget banget, sangat, waktu dia bilang ke gue dengan bahasanya yang kalo diartiin itu, “Manusia itu gak bisa menentukan kapan ajal akan menjemput, sekalipun dia itu dokter. Karena manusia gak pernah tau jalan permainan yang dibuat Tuhan.”
          “Oy, bengong aja lu rin.”
          Gue kaget dan masang muka polos,”Engga tuh.”
          “Gausah ngelak gitu deh. Oh iya, gue dapet kabar buruk deh rin.”
          “Kabar apaan deh?”
          “Lo tau kan, cewek yang suka kita tongkrongin kalo lagi break syuting?”
          “Maksud lom si Nami?”Steffi ngangguk. “Dia kenapa, ehh?”
          “Tadi gue denger dari suster yang blasteran indo itu lohh. Lo tau kan?”
          “Iya iya, kenapa sih emangnya?”
          “Si Nami koma. Dia collapse waktu ngeliat kita syuting tadi, waktu lo shoot di taman belakang”
          “Ya Allah, terus terus?”
          “Ya yaudah. Kata suster itu sih, sebelum dia collapse, dia sempet ngagumin acting lo. Kali aja lo bisa nyemangatin dia di sisa-sisa hidupnya.”
          “Lo nih ya, ngelantur aja. Dia pasti sembuh kok. Yaudah deh, gue mau kesana dulu. Makanan gue buat lo aja steff.”gue langsung ke kamarnya Nami, steffi juga keliatan seneng waktu gue kasih makanan yang belum sempet gue sentuh sama sekali itu.
          Gue duduk di samping gadis yang terdapat banyak selang di tubuhnya. “Hey, wake up. Wake up, and see me. Come on, I need your smile.” Tapi Nami masih aja di posisinya dengan nafas yang tertur. “Minami Takahashi. You’re a strong girl, I learn a lot from you. You interpret this world to me. Come on, give your sweet smile, honey.” Entah kenapa, gue jadi inget kak Bisma. Mukanya Nami mirip banget sama kak Bisma, apa kabar dia disana?
          Tiba-tiba tangan Nami gerak dan genggam tangan gue. Semakin lama genggaman itu semakin erat, tapi sampai sekarang dia belum sadar juga. Gue denger ada suara derap langkah seseorang yang masuk dari pintu utama, bukan suara heels yang dipakai sama perawat. Suara sepatu biasa. “Hey” orang itu menepuk punggung gue. “Anatahadaredesu? (Siapa anda?)
          “Watashi wa kanojo no atarashī tomodachidesu (Saya teman barunya)”jawab gue dengan sedikit terbata-bata + gugup. Gue takut kalo bahasa jepang gue keliru, ya maklum di sekolah nilai Jepang gue gak bagus-bagus banget.
          “Dayo Takahashi, kanojo no ani. Omae wa? (Dayo Takahashi, kakaknya. Dan kamu?”kata seorang laki-laki muda sambil ngulurin tangannya.
          “Arin. Arinia Putri Darmawan.”gue ngebales tangannya. Dia ngebungkukin badan menunjukkan rasa hormat, begitupun gue.
          “O ai dekite ureshī. (Senang bertemu denganmu)”
          “O ai dekite ureshī siguru. (Senang bertemu denganmu juga)”gue senyum sambil nyoba ngasih tempat duduk gue buat dia, tapi dia nolak dan tetep berdiri. “Anata wa eigo o hanasu koto ga dekiru? (Bisakah kamu berbicara bahasa Inggris?)”
“Oh, sure. I’m pretty good in English, and where do you come from? Are you Japanese?”
          “No, I’m not. I am Indonesian, and now I am doing a movie project with some others.”
          “Ooh I see. By the way, how come both of you can know each other?”
          “When I was having a break, I saw her in the garden. I saw she was daydreaming, I started to chat a lot with her, and now we are best friend. Hahaha. Oh ya, where are your parents? Are they going to visit her now?”
          “Uhm. Nice to hear that. But, since my parents broke up, she always daydreaming in her balcon’s room. Until oneday she got sick, and yeah you can see her now. She wasn’t like this before, and I hate it when my father doesn’t want to know about her and got married with the other woman. Now, my mother is a single parent. She has to work, morning to evening. My mother will visit her tonight. But my dad… Yeah, I don’t know.”
          “Sorry, I didn’t mean to make you remember about your family’s past.”
          “Oh no, not at all. Well, just forget it. Wait, Nami is holding your hand? How can it be? She is coma now. ”tanya Dayo dengan muka bingung sambil ngeliat ke arah tangan gue dan Nami.
          “I don’t really know. I just talk to her, and she suddenly hold me thight.”
          “I think she is happy to make a friend with you. Thank you, I hope her condition will be better next.”
          “With my pleasure. Yeah, I hope so.”dari situ, kita saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing, termasuk kehidupan asmaranya. Selidik demi selidik, ternyata pacarnya itu seorang model terkenal di Jepang. Dan sekarang dia lagi photoshoot di Bali, yaa memang Bali tuh tempat 1000 keindahan.
          “Its time for me to go, thank you for the conversation. I enjoy it, hahaha”
          “Aha, likewise I.”
          “Would you tell me about her progress? Uhm. But, I don’t force you.”
          “Of course! Do you want me to take up you until outside?”
          “No, you don’t have to. Okay, see you. Hope Nami will be better soon ya.”
          “Thanks.” Gue keluar dan langsung menuju kantin. Karna gue mau ngelepas rasa laper yang menjadi-jadi akibat gue tunda tadi. Gue makan sendirian di kantin sambil buka tl twitter. Banyak mention yang masuk, mungkin sekitar >200 mentions. Gue liat, rata-rata pada nanyain kabar + kangen-kangenan gitu. Gak sempet gue jawab semua, akhirnya gue ngetweet, “I’m happy here, dear. I miss you too, hope I can go back soon. Much love yaJ”
          Setelah itu, gue nyoba ngestalk tl kak Bisma. Terakhir dia ngetweet itu sekitar 1 bulan 26 hari yang lalu via ubsoc for BB yang kemungkinan punya kak Caca. Dan isi tweetnya itu, “Mimpi buruk adalah ketika seorang pemuda mengakhiri hidupnya tanpa orang yang disayanginya mendampingi. Semoga saat itu bukan saat terakhirnya untuk bersua.”
          “Apa maksud dari tweetnya kak Bisma? Semoga aja ini bukan kata-kata terakhir yang bisa gue liat dari dia.”gue ngegumam sendiri. Akhirnya gue lanjut ngestalk tl Dicky. Dia ngetweet sekitar 2 hari yang lalu, “Rasa rindu ini melebihi rasa rindu orang tua rapunzel kepada anaknya yang hilang belasan tahun, melebihi rasa rindu Alexa ketika jauh dari desa tempat ia hidup. Rasa rinduku ini hanya untukmu milỳ terindahku, miss you most! Go back soon honey @ariniaputri” omg, dia ngemention gue? Kok gamasuk di inner circle gue?
          Gue coba ngecheck, dan ternyata emang inner circle gue lagi error. Tapi kenapa dia gak nyoba dm gue kalo ternyata mention aja bisa? Gue nyoba buat ngestalk mention-mention yang masuk ke dia. Sampe akhirnya gue nemuin ada foto dia lagi ngekiss cewek dan caption si pengirim itu, “Ini siapa kak @dickymprasetyo? Terus kak Arinnya gimana? *link photo*” gue shock. Fix. Gue ngambek, gue kesel, gue marah sama Dicky.
          Sejak hari itu, gue sama Dayo semakin akrab. Kalo lagi break, gue sama dia suka ngobrol seru di kamarnya Nami. Dia juga sering ngajarin gue pelajaran bahasa Jepang yang dijadiin pr sama guru yang ngemonitor gue dari Indonesia. Gue sama dia udah sepakat jadi adek-kakak, gue juga kadang diminta dia buat ajarin sedikit kosa kata bahasa indonesia. Selama itu juga, gue gak pernah sama sekali komunikasi sedikitpun sama Dicky. Ngebales mentionnya yang waktu itu aja gue sama sekali gak pernah. Ngedm? Gak juga.
          “How about your boyfriend?”
          “Yeah, just the same like the first time I tell you. I really-really disappointed at him, even he never try to tell me about the truth. I … I don’t know what should I do.”
          “Maybe, you have to start the conversation between you and your boyfriend. There is nothing wrong right if a girl start it the first?”
          “Uhm. I think so. But, it’s hard.”
          “You can start if you feel ready. Okay, let’s forget it.”gue sama Dayo akhirnya ngelanjutin obrolan yang kali ini topiknya tentang pacarnya Dayo. Setelah gue liat orangnya, ternyata dia emang bener-bener mendekati perfect. Putih, cantik, tinggi, porsinya ideal, cocok sama Dayo yang tingginya beberapa centi diatas pacarnya, putih, rambutnya bener-bener menarik, dan gayanya yang casual.
      1 bulan sebelum gue balik, gue udah gak syuting lagi di rumah sakit. Tapi gue masih tetep sering berkunjung ke kamarnya Nami. Dia sekarang udah sadar dan keliatan lebih fresh. Kata dokter, perkembangannya itu semakin lama semakin membaik, walaupun gak bisa dikatakan sembuh. Tapi seenggaknya gue bisa ngeliat senyum yang sempet hilang beberapa bulan itu. Senyuman yang ngingetin gue sama kak Bisma.
          “Arin, ada yang mau ketemu sama lo.”kata Salsha sambil masuk ke kamar tidur apartemen.
          “Siapa?”tanya gue yang lagi ngikir kuku. Kedengeran lebay? Haha, gue ngikir kuku karna abis motong kuku, bukan yang buat gaya-gayaan gitu. Wkwk.
          “Siapagee, udahlah temuin aja. Tamu jauh tuh.”
          “Kalo menurut insting gue sih ya, kayaknya tamu lo yang satu ini tamu penting. Karna dia ngebawa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang lo pendem.”kata Steffi yang lagi baca novel dengan gaya misterius.
          “Yaudah deh ya, gak perlu banyak cingcong. Gue kebawah. Bye!”ruang tamu sama kamar tidur itu memang beda lantai, ruang tamu sama mini bar itu dibawah, ruang tidur sama ruang tv itu diatas. Tapi masih di satu kamar apartemen.
          “Riri?! Ilham?! “gue pasang muka kaget waktu ngeliat mereka berdua ada di ruang tamu.
          “Hay rin, apa kabar? Kangen sumpah sama lo!”kata Riri sambil lari meluk gue
          “Hahaha, gue juga kangen banget sama lo.”gue ngelepas pelukannya dan langsung tosan sama Ilham. Ya tosan tradisi kita-kita kalo ketemuan. “Kok kalian bisa disini? Dalam rangka apa nih?”
          “Kita lagi liburan aja gitu berdua. Jadwal masing-masing kita Alhamdulillah lagi senggang, jadi ada waktu buat istirahat sama liburan deh. “jawab Riri
          “Ebuseet, ati-ati ya. Jangan macem-macem kalian berdua, nanti ada setan loh”
          “Elah, pikiran lo terbang kesana-sini. Ya enggak lah. Oh ya gimana keadaan lo selama disini?”tanya Ilham
          “Yeah, just like what all of you see. I’m fine.”
          “Fisik lo emang baik-baik aja rin. Tapi hati lo?” omongannya Ilham sedikit nancep di benak gue. Omongan dia bener. Fisik gue emang fine-fine aja, tapi hati gue? Dicky, huh.
          “Ya. Kayaknya lo jauh lebih tau itu.”
          “Oh ya rin, lo harus tau sesuatu.”
          “Apa?”
          “Bisma, dia koma udah sekitar 2 bulan. Keadaannya sekarang udah semakin menurun, dia lagi ngejalanin pengobatan di Singapore. Sebelum dia collapse, dia sempet nulis surat buat lo. Nih suratnya.”kata Riri sambil ngasih surat yang lapisin sama amplop yang digambar peace. “Oh ya, nyokap lo udah nunjukin tanda-tanda mau ngelahirin. Tapi sampe sekarang, mereka belum mau ngasih tau anaknya laki-laki atau perempuan. Dan satu lagi.”
          “Satu lagi apa?”
          “Apa lo tau foto Dicky yang nge…”belom selesai Ilham, gue udah keburu motong omongannya.
          “Yayaya, dan gue males ngebahas itu.”
          “Eh tunggu dulu, gue mau ngasih tau yang sebenernya rin. Dicky udah ngeklarifikasi kalau itu semua bohong. Itu semua Cuma editannya antis supaya hubungan kalian itu end, dan pelakunya udah dikasih warning biar gak ngelakuin itu lagi, termasuk ke artis-artis lainnya.”lanjut Ilham
          “Tapi kenapa dia gak nyoba buat ngasih pengertian itu ke gue? Kenapa dia gak nyoba buat ngejelasin itu semua ke gue? Apa dia gak mikir kalo gue sakit banget ngeliat itu?”
          “Karna dia kira, lo gak tau masalah itu. Dia fikir, dengan kesibukan lo disini, dia yakin kalo lo gak bakal merhatiin banget tentang dunianya.”
          “Ya tapi apa yang dia lakuin ya salah dong. Dia itu seakan-akan gak nganggep gue sebagai pacarnya tau. Intinya deh ya, gue kecewa banget sama dia. Walaupun gue udah tau kebenarannya kayak gimana.”
          “Ya yaudah deh rin, kita gak berhak buat ikut campur masalah kalian berdua. Oh iya, kita mau pamit dulu ya. Mau ada meet and greet, oke?”
          “Ooh, jadi kalian ada MnG juga toh? Okedeh, good luck ya!”gue akhirnya nganterin mereka sampe ke lobby dan balik ke atas lagi. Gue duduk di sofa tadi dan mulai ngebuka surat dari kak Bisma.
          “Buat adikku tersayang, Arin.
          Hai, kamu apa kabar disana? Baik-baik aja kan? Kayaknya kakak kangen banget gitu sama kamu. Ibarat udah gak ketemu berabad-abad. Dan itu sebuah petaka banget buat kakak yang baru banget jadi kakak kamu. Ya, walaupun Cuma kakak tiri. But, no problems right?
          Arin, kamu tau nggak? Disini, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, kakak gak pernah berhenti kangen sama kamu. Dengan keadaan kakak yang semakin memburuk, kakak tetep kuat. Kakak tetep bertahan, seperti apa yang kamu minta dek. Iya, demi kamu. Karna kakak gak mau disaat kamu pulang, kamu mendapati kakak terbaring lemah, atau bahkan udah gaada di dunia ini.
          Tapi kayaknya, janji itu belum tentu bisa kakak penuhin. Waktu kamu baca surat ini, kamu pasti udah tau keadaan kakak sekarang. Iya. Keadaan dimana kakak harus mempertaruhkan antara tetap hidup untuk kamu, atau melepas nyawaku dan meninggalkan semuanya. Kamu inget waktu pertama kali kita ketemu? Di sebuah café, dimana disitu kita diledekin sama anak-anak? Kamu inget kan, gimana merahnya muka kita berdua disitu? Jujur, waktu itu kakak suka sama kamu. Tapi ternyata takdir berkata lain, yang mengharuskan kita berdua menjadi sebuah keluarga. Kamu dan kakak, jadi sepasang adik-kakak. Sempet berat buat kakak menerima itu semua, tapi kakak sadar. Itu justru lebih indah, karna itu berarti hubungan kita gak akan pernah berakhir. Gak akan ada yang misahin kita berdua.
          Tapi ternyata kakak salah. Kakak sakit. Kanker darah yang ada di diri kakak ngebuat hari-hari kakak kacau. Semuanya kakak coba jalani dengan senyuman. Tapi kamu pergi jauh, disaat kakak butuh penyemangat untuk bertahan hidup. Sampe akhirnya kamu muncul secara semu dan nyanyiin lagu kebangsaan kita. Tapi belum sempet kakak cerita banyak hal sama kamu, penyakit itu kembali menumbangkan kakak. Dan sejak itu, kakak sama sekali gak bisa komunikasi sama kamu, bahkan sama orang lain. Kakak Cuma bisa nulis di kertas, itupun dengan tulisan yang gemeter. Terbukti kan?
          Kamu cepet pulang ya, dek. Kakak kangen banget sama kamu. Kakak kangen waktu kamu hadir buat kakak peluk kalau seandainya kakak lagi sedih, butuh temen curhat, kamu selalu ada buat kakak. Tapi maaf, kalau seandainya waktu kamu pulang nanti, kakak udah ada di alam yang berbeda. Mungkin Allah sayang sama kakak, dengan cara memanggil kakak untuk berada di sisiNya. Mungkin itu caraNya buat nunjukkin kalo Dia sayang sama kakak, karna Dia gak mau kakak terus-terusan tersiksa. Tapi satu yang perlu kamu tau. Kakak selalu berusaha buat bertahan demi kamu. Karna sampai kapanpun, kakak akan selalu sayang dan ngejagain kamu, kalaupun nanti di alam yang berbeda. I love you, Arinia Putri Darmawan.
Bisma.”

          Gue netesin air mata dan langsung ngedekap surat itu seakan-akan surat itu adalah kak Bisma. “Maafin kebodohan aku rin. Seharusnya aku tau, perasaan kamu waktu itu…”seseorang ngangetin gue dari arah belakang.

Bersambung…


Maaf ya kalo selama ini suka lama ngepostnya.
Mohon dimaklumin, banyak tugas dari sekolah.
Tetep setia baca fanfict aku ya (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar