Sabtu, 07 Desember 2013

After Story Unexpected Love

Haii, balik lagi niih habis selesai uas. Maaf kalo ngepostnya lama banget, sibuk sama sekolah soalnya. Disini, bahasa yang aku pake lumayan berbeda sama yang sebelum-sebelumnya. Semoga suka yaaa, maaf kalo ada typo yang bertebaran :D

      photo : Kyunghee University of Korea

"Kamu belum jawab pertanyaan aku, chagi." Kata seorang laki-laki kepada perempuan di sebelahnya.

"Ih kamu apaan sih, gak usah sok korea gitu deh. Masa pake chagi-chagian, terus ujung-ujungnya nanti aku disuruh manggil kamu oppa gitu?" Protes perempuan yang bahunya sedari tadi dijadikan sandaran kepala sang laki-laki.

"Sebenernya sih aku gak maksa, tapi kalo kamu yang mau manggil aku oppa sih ya gak apa-apa. Toh kan kamu lulusan Kyunghee University di Korea kann?" 

"Aishh. Kenapa kamu jadi manja gini sih? Emang selama aku pergi, kamu ngapain aja sih bisa berubah jadi manja banget?"

"Lagian kamu perginya kelamaan, 2 tahun lebih kamu ke Korea terus ninggalin aku sendirian di Bandung." Rajuk si laki-laki sambil memainkan jari-jari si perempuan.

"Itu aja aku udah ngambil percepatan, masih dibilang lama juga? Kamu mau aku kuliah secepet apa sih?" 

"Aku aja percepatan di sini cepet tuh, kenapa kamu lama? Bahkan sekarang aku udah megang perusahaan papa. Intinya kamu tetep lama, aku kangen udah titik. Pokoknya hari ini kamu harus full seharian sama aku, selama kamu pergi aku tuh jarang makan tau." 

"Astagaa. Emang selama aku gak ada, Kak Morgan gak pernah ngasih kamu makan apa? Lagian kenapa males makan?"

"Gaada yang masakin makanan seenak buatan kamu, terus gaada yang nyuapin aku kalo aku lagi main psp."

"Aku jadi ilfeel sama kamu, kenapa kamu jadi over manja kayak gini? Bukannya makin besar makin dewasa, malah semakin kekanak-kanakan."

"Terserah kamu aja, yang penting aku mau sama kamu seharian. Gak peduli kamu baru aja sampe di Jakarta atau apapun, aku kangen." Ucap laki-laki yang bernama Bisma itu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan si gadis yang bernama Mova.

Hampir tiga jam keadaan mereka tetap begini sampe akhirnya Mova berdiri ketika melihat Bisma sudah terlelap karna saking capeknya bermain psp. "Kamu memang tambah kurus, dan aku janji bakal bikin pipi-pipi kamu ini berisi lagi." lirih Mova sambil jalan menuju dapur.

"Eh Mova, lagi ngapain di dapur?" Tanya kak Anne, istrinya Kak Morgan yang sekarang lagi hamil sekitar 6 bulan. Memang beberapa bulan sebelum Mova sekolah di Seoul, Kak Morgan dan Kak Keisha putus karna alasan perbedaan keyakinan. Jadilah satu tahun yang lalu, Kak Morgan dan kak Anne menikah.

"Mau masakin Bisma makanan, kasian daritadi dia belum makan." Jawab Mova sambil menyiapkan beberapa bahan makanan.

"Aku gak tau harus gimana berterima kasihnya sama kamu, kamu itu udah kayak penyelamat dia dari dunia kelam tau gak?."

"Itu udah masa lalu kak, gak usah diungkit lagi. Yang penting sekarang kan dia udah kayak sedia kala."

"Aku juga mau berterima kasih sama kamu va, karna bantuan kamu buat ngebujuk dia, dia akhirnya mau nerima permintaan papa buat nerusin perusahaannya."  Tiba-tiba Kak Morgan muncul dari ruang tamu dengan membawa beberapa kantung plastik berisikan barang-barang untuk anak bayi.

"Semua itu bukan karna aku doang kok kak, kalian semua punya andil disini." Mova membalas perkataan-perkataan Kak Anne dan Kak Morgan sambil memasak.

"Ngomong-ngomong, kamu habis ini ada rencana mau kerja dimana?" Tanya Kak Morgan yang lagi duduk di samping kak Anne di mini bar.

"Bisnis perhotelan papa kebetulan mau bikin cabang baru, dan aku diminta buat sementara memimpin proyeknya. Ya itung-itung buat merintis bisnis interior exteriorku. Tapi setelah itu, aku bakal ngembangin proyekku sendiri di sekitar jawa. Beberapa perusahaan juga udah aku kasih proposal dan siap buat bekerja sama. " Jawab Mova sambil meletakkan makanan yang semula untuk Bisma jadi untuk Kak Morgan dan kak Anne juga.

"Waah keren banget dong va! Gan, pokoknya nanti anak kita harus sepinter, sehebat dan sekuat Mova." Celetuk kak Anne disela kegiatannya yang lagi nyemilin kacang polong. Sontak Mova dan Kak Morgan ketawa melihat ekspresi kak Anne yang terlihat innocent saat mengatakan itu.

"Jangan kayak aku dong kak, aku masih gak ada apa-apanya kalo dibanding sama kalian." Mova mencoba merendah.

"Kita semua i-" omongan Kak Morgan terpotong sama teriakan Bisma yang melengking.

"MOVAA... MOVAA..." 

"Kamu ngumpet deh, aku mau ngerjain Bisma." Kata kak Anne dengan suara pelan seraya ngedorong Mova ke dapur belakang. Kak Morgan yang ngeliat kejadian ini cuma bisa melongo sambil sesekali mengusap tengkuknya yang bisa dipastiin gak gatel sama sekali. Mungkin yang terlintas di pikirannya adalah 'Sejak kapan istri gue jadi jail?' atau 'Apa ini bawaan bayi terus nantinya anak gue tumbuh jadi anak yang jail?'.

"Tapi kak-"

"Ssttt... Udah kamu diem aja disini, jangan keluar sebelum aku balik lagi ke dapur." Kata kak Anne sambil berlalu dari hadapan Mova.

"Kak, Mova kemana?!" Tanya Bisma dengan nada menuntut.

"Dia-" Lagi-lagi ucapan Kak Morgan kepotong.

"Loh, emang dia kesini? Dari tadi aku disini gak ngeliat siapa-siapa tuh." Saut kak Anne dari arah dapur.

"Tadi dia ada disini kak, tadi dia nemenin aku main psp. Terus aku ketiduran, bangun-bangun dia udah ngilang." Kata Bisma dengan nada frustasi.

"Nah kan! Itu mah udah jelas kamu cuma mimpi, Mova itu belum pulang dari Seoul tau." Sewot kak Anne.

"Gan, Mova itu tadi disini, yakan?!" Bisma mencoba mencari pembelaan dari kakaknya.

"Mana gue tau sih, dari tadi kan gue gak di rumah." Ucap Kak Morgan yang mencoba menetralkan nada suaranya.

"Ishhhh, gak. Tadi dia udah dateng." Suara Bisma terdengar bergetar, memang semenjak Mova menyelesaikan pendidikan di Seoul, Bisma berubah menjadi sosok yang cengeng.

"Gak usah nangis gitu ah, cowok masa rapuh." Mova keluar dari persembunyiaannya dan mengelus pundak Bisma, mencoba meredamkan getaran tubuhnya. Sontak Bisma langsung membalikkan badan dan merengkuh Mova ke dalam pelukannya.

"Kenapa ninggalin aku sendiri? Aku gamau kamu pergi lagi." Ucap Bisma dengan nada manja yang kentara.

"Belum menikah aja udah kayak gini, gimana kalau udah menikah? Bisa habis deh Mova nya." Ledek kak Anne sambil menyadarkan kepalanya ke dada bidang Kak Morgan.

"Emangnya aku mau nikah sama dia kak? Kata siapa?" Mova mencoba mengerjai Bisma, terbukti dari perubahan ekspresi Bisma yang langsung menjadi kesel.

"Kamu gamau menikah sama aku?! Terus kamu nganggep hubungan kita selama ini itu apa?! Tega banget ya, udah ninggalin aku 3 tahun, dan sekarang kamu mau ngelepasin gitu aja pengorbanan aku selama ini?!" Teriak Bisma dengan nada geram. Di belakangnya, terdengar Kak Morgan dan kak Anne terkekeh.

"Aduh Bisma, aku cuma bercanda kali. Gak usah dianggep serius dong, mendingan sekarang makan aja yaah." Ucap Mova mencoba meredamkan emosi Bisma yang terlanjur tersulut dengan mengelus lembut kedua pipi kurus Bisma. Memang Bisma mudah sekali dibujuk oleh Mova kalau pipinya sudah dielus lembut.

"Lain kali jangan kayak gitu, aku gak suka." Rajuk Bisma sambil jalan mendahului Mova menuju meja makan. Mova hanya bisa mendengus menghadapi sikap kekanak-kanakan Bisma yang baru terlihat belakangan. Bahkan Kak Morgan dan kak Anne terlihat bingung dengan perubahan sikap Bisma yang drastis. 

"Sabar ya." Bisik kak Anne ketika Mova lewat di sampingnya. Mova hanya membalas dengan anggukan mantap.

"Hukuman buat kamu! Suapin aku sampe aku selesai makan." Bisma mendorong piringnya ke arah Mova. Mova lagi-lagi hanya bisa mendengus menghadapi Bisma yang ia pikir sudah berbeda. 

"Iya mamang Bisma." Pasrah Mova sembari menyuapkan makanan ke mulut Bisma yang tersenyum penuh kemenangan.

                             ***

"Aku izin pulang dulu ya, udah malem, takut macet di jalan." Sekitar pukul 9 malam, Mova pamit pulang menuju apartemennya yang berjarak 1 jam dari rumah Bisma.

"Kamu gak bisa nginep aja ya?" Tanya Bisma lesu.

"Besok juga kalian masih ada waktu, gak usah sedih gitu dong." Hibur kak Anne.

"Hmm." Gumam Bisma yang hanya dibalas dengan senyuman 3 orang lainnya.

"Yaudah kalau gitu aku pamit dulu, Assalamualaikum." 

"Waalaikum salam." Perlahan mobil Mova menjauh dari rumah Bisma, bahkan Bisma tidak mengedarkan pandangannya sedikitpun dari mobil Mova sampai sudah tidak terlihat lagi.

"Pokoknya aku mau cepet-cepet nikahin dia, dia gaboleh lagi jauh dari aku." Celetuk Bisma sambil memasuki rumah. Kak Morgan dan kak Anne tertawa kecil mendengar semangat Bisma.

"Adekku udah dewasa sekarang." Kata Kak Morgan bangga.

                           ***

"Hhh pegel banget yaampun." Mova jatuhin dirinya ke atas kasur tidurnya, memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh yang memang sudah lemes. Bayangkan, ia sampai di Indonesia pukul 9 pagi dan langsung ke rumah Bisma untuk memenuhi permintaan lelaki yang udah dipacarinya selama 2 tahun lebih itu.

"Movaa" teriak Leni dari luar kamar Mova.

"Apa?!" Sahut Mova tanpa berniat untuk membuka matanya.

"Ada mama sama papa. Gak mau ketemu dulu?" 

"Aku capek kak." Beberapa menit setelah saut-sautan antara kakak-beradik itu, mendadak suasana menjadi hening.

"Jadi sekarang anak bungsunya mama sama papa udah nggak sayang lagi ya sama kita? Yaudah deh pa, kita pindah aja yuk ke luar kota." Tiba-tiba suara mama Mova menyentakkan gadis yang sesang mengistirahatkan tubuhnya.

"Aah eomma (mama), appa (papa), jeongmal bogoshipo (kangen banget)." Teriak Mova lompat dari kasurnya dan langsung meluk kedua orang tuanya.

"Nado, chagi (Kami juga, sayang). Maaf ya, kita gak bisa nganter kamu pulang ke Indonesia." Ucap mama Mova sambil mengelus rambut putri bungsunya. Mova hanya membalas dengan anggukan dan masih enggan untuk melepaskan pelukannya.

"Gimana disana? Nothing problem kan? Kita sebenernya mau tetep disana sampe semua urusan selesai wisuda kamu selesai, tapi kita harus ngelatih kakak-kakak kamu buat mimpin perusahaan dan ngegantiin posisi kita." Terang papa Mova dan melakukan hal yang sama seperti mama Mova.

"Semuanya lancar kok, pa. Semua surat-surat kelulusan aku juga udah selesai diurus, masih di dalem koper." Jawab Mova sambil melepas pelukannya dan menatap 2 pasang mata di hadapannya.

"Jadi, kapan kamu mau mulai kerja? Papa udah sempet bicarain masalah proyek hotel baru papa, dan kamu gak perlu turun langsung ke lapangan. Nanti kamu bisa memantau perkembangan dari anak buah papa yang papa utus buat ngedampingin kamu di proyek ini, atau kamu juga boleh sesekali survei ke lokasi." 

"Mungkin minggu depan pa, soalnya aku masih mau ketemu sama temen-temen dulu." 

"Yaudah terserah kamu aja." Setelah melewati beberapa pembicaraan santai, akhirnya masing-masing kembali ke kamarnya dan mengakhiri hari di kasur.

                          ***

"Astaga Mova, gue kangen banget sama lo. Lama banget nggak ketemu!" Ve menyambut kedatangan Mova dengan sebuah pelukan hangat, tidak peduli posisi mereka yang sedang berada di restaurant dan menjadi pusat perhatian.

"Gue juga kangen, gimana kabar lo? Sorry ya akhir-akhir ini jarang komunikasi, ribetnya kelulusan disana sama disini itu beda." Mova melepas pelukannya. Segera ia menempatkan diri di depan Ve dan berdampingan dengan Bisma yang sedari tadi sudah larut dalam obrolan laki-laki dengan Kevin.

"Gue baik kok, iya gapapa. Ngomong-ngomong gimana hasilnya?" Tanya Ve antusias.

"Alhamdulillah bagus, lo sendiri juga gimana nih? Kuliah sambil ngurus restaurant sebesar ini? Whoaa daebakk!(keren!)" 

"Ya gitu deh, seru pokoknya."

"Anyway, kok lama gak ketemu lo jadi gendutan sih? Makan mulu ya kerjaannya?" Tanya Mova heran. Mendengar hal itu, Kevin dan Bisma yang tadinya sibuk dengan obrolannya langsung melihat ke pasangannya masing-masing. Terutama Ve dan Kevin yang terlihat saling berpandangan dan melempar senyum penuh arti, sedetik kemudian senyum bahagia terlukis di wajah keduanya. Membuat Mova semakin bingung dibuatnya.

"Sebenernya gue sama Ve udah menikah awal tahun ini, semua temen-temen juga udah tau kok. Gue juga udah ngundang lo lewat email, tapi kayaknya email kita tenggelam ya sama email-email kampus lo? Bisma juga waktu itu dateng kok, ya walaupun mukanya kusut sih. Hahaha." Ucap Kevin sambil menggenggam tangan Ve. 

"Changkkaman (tunggu), jangan bilang kalo lo lagi... Hamil?" Ucapan Mova langsung disambut dengan anggukan dari Ve, dan sedetik kemudian raut wajah Mova langsung terlihat kaget bercampur bahagia. "Chukkae (selamat) yaa! Aduh mian (maaf) gue gak dateng ke acara nikahan kalian, gue seneng banget dengernya! Semoga keluarga kalian bahagia sampe akhir hayat ya."

"Aamin, gomawo Mova! (Terima kasih Mova)." Mova yang mendengar Ve dan Kevin membalas dengan bahasa korea yang tersendat langsung tertawa geli. Detik berikutnya, mereka sudah larut dalam perbincangan layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu.

"Pokoknya kita tunggu undangan pernikahan kalian ya." Kata Ve sambil jalan mengantar Mova dan Bisma ke luar restaurant miliknya.

"Dijamin bulan depan kalian bakal nerima undangan kita, ya nggak chagi-ya?" Tanya Bisma seraya melingkarkan lengan kirinya ke pinggang ramping milik Mova.

"Umm, hehehe." Hanya cengiran lebar yang Mova berikan dan disusul dengan kekehan pasangan di depannya itu.

"Yaudah deh kita pamit dulu ya, kasian nih calon pengantin ceweknya udah capek kayaknya. Gue gamau ada apa-apa sama belahan jiwa gue, kalo dia sakit gue juga sakit." Lebay Bisma dengan kepala yang sudah ia letakkan di pundak Mova.

"Bismaa apaan sih? Aduh Ve, Kevin, sorry ya semenjak ada gue dia jadi lebay manja gitu. Thanks buat hari ini, gue duluan yah. Annyeong." Ucap Mova tidak enak dan langsung lari menuju mobil Bisma yang terparkir tidak jauh dari lobby restaurant.

"Serem lo bis! Anyway, good luck buat pernikahannya. Emang mau kapan?" Tanya Kevin penasaran.

"Belum tau sih, tapi intinya secepat mungkin. Gue juga udah siap buat ngadep ke ortunya dia kok! Pokoknya doain aja, gue duluan ya." Akhirnya Bisma bergegas menyusul Mova dan pergi menjauh dari restaurant milik sahabatnya.

                          ***
*Mova's POV*

"Permisi nona muda, ada laki-laki yang ingin bertemu dengan anda. Katanya ia teman dekat nona muda." Kata sekretaris Nita seraya menundukkan kepalanya.

"Siapa? Apa dia bilang kalau dia sudah membuat janji dengan saya?" Tanyaku seraya menyandarkan badan ke sandaran kursi meja dan mengistirahatkan tangan yang sedari tadi sibuk menggambar desain untuk interior kamar hotel.

"Itu... Dia bilang, dia tidak perlu membuat janji dengan anda. Soalnya, dia berkata kalau..." Sekretaris Nita terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. Sebelum sempat berbicara, terlihat pintu ruanganku terbuka dan memunculkan sosok yang sangat tidak terduga.

"Segitu sibuknya sampai-sampai gak mau ketemu sama gue, ca?" Ucap laki-laki sambil bersandar di daun pintu.

Sesaat, Mova sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok yang sedang berdiri beberapa meter dari tempat duduknya. Setelah mampun menetralkan suasana, akhirnya Mova mulai membuka suara.

"Terima kasih, kamu boleh keluar sekarang." Ucap Mova dan langsung dijawab dengan anggukan sekretarisnya. Pria itu segera menghampiri dan memeluk Mova.

"3 tahun lebih lo ngilang, lo kemana aja?" Tanya Dicky dengan posisinya yang masih memeluk Mova.

"Ky, stop. Lo tau kan sekarang-" Mova mencoba untuk menjauh dan mengingatkan statusnya, tetapi Dicky memotong ucapannya.

"Gue cuma kangen, biarin aja tetep kayak gini untuk sementara waktu." 

"Ini di kantor, Dicky! Lepasin."

"Tolong, sebentar aja. Gaada yang bisa gue jadiin tempat sandaran selain lo, ca." Mova yang tidak bisa berkata apapun hanya diam dan mengelus pelan punggung lelaki yang terlihat sangat kacau, terlebih ia merasakan kemejanya yang basah dan tubuh di depannya yang sedikit bergetar.

Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan membunuh dan tangan yang mengepal kuat. Ia segera merogoh sakunya dan mengambil iPhonenya, mencari satu kontak nama dan terdengar nada sambung setelah ia memilih opsi call.

"Saya tidak mau tau, semua dipercepat jadi minggu depan." Ia langsung mematikan sambungan telfonnya dan melangkah menjauh dari ruangan sang presidir muda perusahaan desain tersebut dengan langkah santai namun terlihat ada penekanan didalamnya.

                          ***

"Chagi-ya..." Ucap laki-laki bersuara serak seraya memeluk dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak istrinya. Ya, mereka sedang menikmati dinginnya malam di daerah Bandung.

"Hmm~" gumam sang istri yang sedang memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang sedang menerpa wajah putih mulusnya.

"Kamu ngambek ya sama aku? Maaf, aku kan cuma mau yang terbaik buat kita." 

"Aniya(tidak), aku cuma heran aja. Kamu sama sekali nggak mau ngasih tau aku alasan dibalik ini semua apa."

"Kamu pasti tau alasan aku apa, aku gamau-" ucapan laki-laki itu terpotong ketika tubuh sang istri berbalik menghadapnya dan melayangkan tatapan lembut. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terbuai dengan kelembutan yang terpancar dari matanya.

Sang istri menangkupkan tangannya di kedua pipi tirus sang suami dan berkata pelan, "Kau takut aku berpaling pada namja(pria) lain, eoh? Omo, harus berapa kali aku bilang ke kamu kalo cuma ada kamu di hatiku? Cuma kamu namja yang aku persilahkan untuk memasuki hatiku dan memiliki diriku seutuhnya."

"Mianhae(maaf), bukan maksudku untuk nggak mempercayai ucapanmu. Aku cuma takut kamu nantinya akan berpaling dariku."

"Gwenchana(tak apa), toh sekarang aku sudah menjadi istrimu. Apalagi yang harus dipermasalahkan? Pada akhirnya juga aku akan menjadi milikmu kan?"

"Baiklah nyonya Karisma, sepertinya moment dramatis ini kita lanjutkan nanti. Sekarang kau sudah menjadi milikku seutuhnya kan? Jadi..." Bisma menggantungkan ucapannya seraya menyeringai penuh kemenangan, membuat Mova bergidik ngeri. Sepertinya akan terjadi hal besar setelah ini, batinnya. 

"Mari kita membuat satu anggota baru di keluarga besar kita." Ucap Bisma dengan suara rendah tepat di telinga Mova, memberikan sensasi menggelitik bagi tubuhnya.

Segera saja Bisma menggendong tubuh ramping Mova ala bridal style menuju kamar pengantin yang kedepannya akan menjadi kamar mereka berdua untuk saling melepas rindu dan mempererat tali cinta mereka, juga sebagai saksi seberapa besar cinta mereka berdua.

Beginilah kehidupan indah mereka, berawal dari permasalahan hati yang rumit disertai deraian air mata dan emosi, perbedaan jarak yang sangat jauh, sampai akhirnya mereka bersatu dan diakhiri dengan senyuman bahagia. Semoga Tuhan memberikan takdir yang indah untuk mereka. 

Di sisi lain.

"Kayaknya aku harus berterima kasih ya sama Mova, coba kalo aku nggak dengerin kata dia? Mungkin sekarang aku akan kehilangan dan nggak akan bisa lagi bareng sama bidadariku yang satu ini." Ucap Dicky sambil mengelus puncak kepala gadis, ah lebih tepatnya wanita yang sedang ada di pelukannya.

Wanita itupun menyunggingkan senyum terbaiknya disertai rona merah yang menghiasi kedua pipi chubbynya.

"Dan yang lebih penting, aku bisa menjaga malaikat kecil kita yang ada di dalam sini. Kita akan merawat dan membesarkannya bersama, iya kan sayang?" Sesaat Dicky mengalihkan padangannya dari perut sang wanita yang sudah sedikit membuncit. 

Ditatapnya dalam kedua bola mata wanita yang amat dicintainya, sebelum akhirnya iya kembali mencium perut yang sedikit membuncit itu. Sang wanita hanya tersenyum haru dan mengelus pelan rambut sang suami, segala ketakutan dan kegelisahannya selama ini seolah lenyap, terbang terbawa hembusan angin malam yang masuk melalui jendela kamar mereka. 

Ia bersyukur pada Tuhan, segala penantian panjang yang sempat teroyak oleh badai permasalahan yang besar akhirnya datang dengan membawa sejuta keindahan dan kebahagiaan yang bahkan jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya. Tuhan memang Maha Adil atas apa yang dimiliki-Nya.

The End-


Flashback on

Dicky menatap kedua manik mata Mova dengan sendu, berharap mendapatkan ketenangan setelah mencurahkan segala permasalahan yang tengah menderanya. 

Mova pun mengelus pelan pundak sahabat lamanya ini dan mengela nafas pendek. "Awalnya gue nggak nyangka lo bisa ngelakuin hal seburuk itu, ky." 

"Gue juga nggak tau kalau akhirnya bakal kayak gitu. Saat itu banyak banget masalah yang dateng, entah dari hubungan gue sama Dita, sampe ke masalah kantor bikin gue frustasi. Akhirnya gue mutusin buat mabuk, ternyata Bartender nelfon Dita dan minta dia buat nganter gue pulang. Waktu di rumah, gue nggak sadar akhirnya gue ngelakuin hal itu. Gue baru sadar waktu pagi-pagi, dia nangis di samping gue dan gue baru sadar kalau gue ngelakuin hal yang semestinya gak dilakuin pasangan yang belum menikah." 

"Semenjak kejadian itu kita bener-bener kayak nggak kenal satu sama lain, dan kemarin dia dateng ke gue dengan perut yang agak buncit dan bilang kalo ternyata dia lagi ngandung anak gue. Gue gatau harus gimana, gue bener-bener ngerasa orang paling bodoh, ca." 

"Ky, lo jangan beranggapan kayak gitu. Memang apa yang lo lakuin kelewat batas, tapi kan itu juga diluar kendali lo. Gue berharap lo bisa nujukkin diri lo sebagai seorang laki-laki yang berani bertanggung jawab atas apa yang udah lo perbuat, walaupun itu dibawah kesadaran lo sekalipun." 

"Lo pasti nggak mikirin kan posisi dia kayak gimana? Dia pasti jauh lebih besar beban fikirannya, apalagi sekarang dia lagi hamil. Itu juga nggak baik untuk kesehatan ibu dan bayinya, anak kalian, dan lo harus inget itu." Mova menatap sahabatnya dengan iba, ia bisa merasakan betapa tertekannya pria di hadapannya ini.

"Jadi, gue harus gimana ca?" Perlahan pria itu menatap mata Mova setelah sebelumnya ia tertunduk lemah.

"Lo dateng ke rumahnya, lo jelasin semuanya di depan keluarganya dengan gentle, dan lo bilang lo siap bertanggung jawab dan nikahin dia." Untuk beberapa menit, keduanya dilanda keheningan. Sementara Mova menunggu jawaban Dicky, yang ditunggu berusaha meyakinkan tekadnya. Setalah yakin, ia mengangguk mantap.

"I will." Keduanya bertatapan dan saling melemparkan senyum kelegaan dan kebahagiaan.

Di sisi lain.

"Om, aku datang kesini mau mempercepat pernikahan aku dan Mova menjadi minggu depan." Ucap Bisma terburu-buru.

"Heii Bisma, kamu ada apa? Coba cerita ke om, ada masalah apa sampe-sampe kamu mau mempercepat pernikahan kalian, hmm?" Tanya ayah Mova heran. Tentu saja, siapa yang tidak heran melihat calon menantunya tiba-tiba datang ke kantornya dengan tergesa-gesa dan dengan yakin ingin mempercepat acara pernikahan mereka.

Dengan lancar, Bisma menceritakan apa yang ia liat di ruangan Mova, ketika kekasihnya itu sedang berpelukan dengan masa lalunya, siapa lagi kalau bukan Dicky. 

"Aku nggak mau dia diganggu oleh pria lain om, aku nggak mau kalau nantinya dia berpaling ke masa lalunya. Aku nggak bisa ngebayangin gimana jadinya aku tanpa dia om, om ngerti kan posisi aku?" Tanya Bisma mencari pembelaan. Ia benar-benar takut seandainya semua yang ia bayangkan benar terjadi.

Sedangkan ayah Mova hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan tanda bahwa ia menolak, melainkan ia heran. Bagaimana anak bungsunya bisa mendapatkan calon pendamping hidup yang amat sangat pencemburu dan over protective terhadap anaknya? Tapi di sisi lain, ia senang karna dengan begitu ia bisa menitipkan anaknya ke tangan yang tepat.

Terdengar kekehan pelan dari mulutnya sebelum akhirnya ia menggangguk menyetujui permintaan calon menantunya, bagaimanapun ia juga tidak bisa menghalangi cinta yang amat besar diantara kedua sejoli ini bukan? 

Ia hanya akan merawat Mova sampai gadis kecilnya itu menemukan pangeran yang nantinya akan menjaga dirinya seutuhnya, lalu dengan begitu ia bisa mempercayakan gadis itu pada pangerannya dan menikmati masa-masa tuanya bersama sang istri dengan indah dan dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya kelak. Sungguh masa depan yang indah.

Flashback end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar